12.3.09

Shallu alan Nabiy


Oleh : KH.Rahmat Abdullah

Apa yang Tuan fikirkan tentang seorang laki-laki berperangai amat mulia, yang lahir dan dibesarkan di celah-celah kematian demi kematian orang-orang yang amat mengasihinya?
Lahir dari rahim sejarah, ketika tak seorangpun mampu mengguratkan kepribadian selain kepribadiannya sendiri. Ia produk tadib Rabbani (didikan Tuhan) yang menantang mentari dalam panasnya dan menggetarkan jutaan bibir dengan sebutan namanya, saat muadzin mengumandangkan suara adzan.

Dirumahnya tak dijumpai perabot mahal. Ia makan di lantai seperti budak, padahal raja-raja dunia iri terhadap kekokohan struktur masyarakat dan kesetiaan pengikutnya. Tak seorang pembantunya pun mengeluh pernah dipukul atau dikejutkan oleh pukulannya terhadap benda-benda di rumah. Dalam kesibukannya ia masih bertandang ke rumah puteri dan menantu tercintanya, Fathimah Azzahra dan Ali bin Abi Thalib. Fathimah merasakan kasih sayangnya tanpa membuatnya jadi manja dan hilang kemandirian.

Saat Bani Makhzum memintanya membatalkan eksekusi atas jenayah seorang perempuan bangsawan, ia menegaskan: Sesungguhnya yang membuat binasa orang-orang sebelum kamu ialah, apabila seorang bangsawan mencuri mereka biarkan dia dan apabila yang mencuri itu seorang jelata mereka tegakkan hukum atasnya. Demi Allah, seandainya Fathimah anak Muhammad mencuri, maka Muhammad tetap akan memotong tangannya.


Hari-hari penuh kerja dan intaian bahaya. Tapi tak menghalanginya untuk lebih dari satu dua kali- berlomba jalan dengan Humaira, sebutan kesayangan yang ia berikan untuk Aisyah binti Abu Bakar Asshiddiq. Lambang kecintaan, paduan kecerdasan, dan pesona diri dijalin dengan hormat dan kasih kepada Asshiddiq, sesuai dengan namanya si Benar. Suatu kewajaran yang menakjubkan ketika dalam sibuknya ia masih menyempatkan memerah susu domba atau menambal pakaian yang koyak. Setiap kali para sahabat atau keluarganya memanggil ia
menjawab: Labbaik. Dialah yang terbaik dengan prestasi besar di luar rumah, namun tetap prima dalam status dan kualitasnya sebagai orang rumah.

Di bawah pimpinannya, laki-laki menemukan jati dirinya sebagai laki-laki dan pada saat yang sama perempuan mendapatkan kedudukan amat mulia. Sebaik-baik kamu ialah yang terbaik terhadap keluarganya dan akulah orang terbaik diantara kamu terhadap keluargaku. Tak akan memuliakan perempuan kecuali seorang mulia dan tak akan menghina perempuan kecuali seorang hina, demikian pesannya.

Di sela 27 kali pertempuran yang digelutinya langsung (ghazwah) atau dipanglimai sahabatnya (sariyah) sebanyak 35 kali, ia masih sempat mengajar Al-Quran, sunnah, hukum, peradilan, kepemimpinan, menerima delegasi asing, mendidik kerumahtanggaan bahkan hubungan yang paling khusus dalam keluarga tanpa kehilangan adab dan wibawa. Padahal, masa antara dua petempuran itu tak lebih dari 1,7 bulan.

Setiap kisah yang dicatat dalam hari-harinya selalu bernilai sejarah. Suatu hari datanglah ke masjid seorang Arab gunung yang belum mengerti adab di masjid. Tiba-tiba ia kencing di lantai masjid yang berbahan pasir. Para sahabat sangat murka dan hampir saja memukulnya. Sabdanya kepada mereka : Jangan, biarkan ia menyelesaikan hajatnya. Sang Badui terkagum, ia mengangkat tangannya, Ya Allah, kasihilah aku dan Muhammad. Jangan kasihi seorangpun bersama kami. Dengan tersenyum ditegurnya Badui tadi agar jangan mempersempit rahmat Allah.

Ia kerap bercengkerama dengan para sahabatnya, bergaul dekat, bermain dengan anak-anak, bahkan memangku balita mereka di pangkuannya. Ia terima undangan mereka: yang merdeka, budak laki-laki atau budak perempuan, serta kaum miskin. Ia jenguk rakyat yang sakit jauh di ujung Madinah. Ia terima permohonan maaf orang.

Ia selalu lebih dulu memulai salam dan menjabat tangan siapa yang menjumpainya dan tak pernah menarik tangan itu
sebelum sahabat tersebut yang menariknya. Tak pernah menjulurkan kaki di tengah sahabatnya hingga menyempitkan ruang bagi mereka. Ia muliakan siapa yang datang, kadang dengan membentangkan bajunya. Bahkan ia berikan alas duduknya dan dengan sungguh-sungguh ia panggil mereka dengan nama yang paling mereka sukai. Ia beri mereka kuniyah (sebutan bapak atau ibu si Fulan). Tak pernah ia memotong pembicaraan orang, kecuali sudah berlebihan. Apabila seseorang mendekatinya saat iashalat, ia cepat selesaikan shalatnya dan segera bertanya apa yang diinginkan orang itu.

Pada suatu hari dalam perkemahan tempur ia berkata: Seandainya ada seorang saleh mau mengawalku malam ini. Dengan kesadaran dan cinta, beberapa sahabat mengawal kemahnya. Di tengah malam terdengar suara gaduh yang mencurigakan. Para sahabat bergegas ke sumber suara. Ternyata ia telah ada disana mendahului mereka, tegak diatas kuda tanpa pelana, Tenang, hanya angin gurun, hiburnya. Nyatalah bahwa keinginan ada pengawal itu bukan karena ketakutan atau pemanjaan diri, tetapi pendidikan disiplin dan loyalitas.

Ummul Mukminin Aisyah ra. berkata: Rasulullah SAW wafat tanpa meninggalkan makanan apapun yang bisa dimakan makhluk hidup, selain setengan ikat gandum di penyimpananku. Saat ruhnya dijemput, baju besinya masih digadaikan kepada seorang Yahudi untuk harga 30 gantang gandum.

Sungguh ia berangkat haji dengan kendaraan yang sangat sederhana dan pakaian tak lebih harganya dari 4 dirham, seraya berkata, Ya Allah, jadikanlah ini haji yang tak mengandung riya dan sumah. Pada kemenangan besar saat Makkah ditaklukkan, dengan sejumlah besar pasukan muslimin, ia menundukkan kepala, nyaris menyentuh punggung untanya sambil selalu mengulang-ulang tasbih, tahmid dan istighfar. Ia tidak mabuk kemenangan.

Betapapun sulitnya mencari batas bentangan samudera kemuliaan ini, namun beberapa kalimat ini membuat kita pantas menyesal tidak mencintainya atau tak menggerakkan bibir mengucap shalawat atasnya: Semua nabi mendapatkan hak untuk mengangkat doa yang takkan ditolak dan aku menyimpannya untuk umatku kelak di padang mahsyar nanti.

Ketika masyarakat Thaif menolak dan menghinakannya, malaikat penjaga bukit menawarkan untuk menghimpit mereka dengan bukit. Ia menolak, Kalau tidak mereka, aku berharap keturunan di sulbi mereka kelak akan menerima dakwah ini, mengabdi kepada Allah saja dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun.

Mungkin dua kata kunci ini menjadi gambaran kebesaran jiwanya.
Pertama, Allah, sumber kekuatan yang Maha dahsyat, kepada-Nya ia begitu refleks menumpahkan semua keluhannya. Ini membuatnya amat tabah menerima segala resiko perjuangan; kerabat yang menjauh, sahabat yang membenci, dan khalayak yang mengusirnya dari negeri tercinta.
Kedua, Ummati, hamparan akal, nafsu dan perilaku yang menantang untuk dibongkar, dipasang, diperbaiki, ditingkatkan dan diukirnya.

Ya, Ummati, tak cukupkah semua keutamaan ini menggetarkan hatimu dengan cinta, menggerakkan tubuhmu dengan sunnah dan uswah serta mulutmu dengan ucapan shalawat? Allah tidak mencukupkan pernyataan-Nya
bahwa Ia dan para malaikan bershalawat atasnya (QS.Al Ahzab: 56), justru Ia nyatakan dengan begitu vulgar perintah tersebut, Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah atasnya dan bersalamlah dengan sebenar-benar salam.

Allahumma shalli alaihi waala aalih!

Baca Selengkapnya......

12.1.09

Biarkan Aku Jadi Orang Palestina!

Dia telah menyadari kenyataan itu sejak awal. Tepatnya sejak pemimpin redaksi majalahnya menugaskannya ke Israel untuk meliput perkembangan terakhir negeri itu. Dia menyadarinya dengan baik bahwa kini ia sedang memasuki dunia baru yang penuh petualangan. Sebuah dunia yang sarat dengan bau kematian sekaligus suara-suara kehidupan.

Sekalipun begitu, ia tak pernah menduga sama sekali kalau hal itu akan menjadi awal dari masa ketika ia harus melewati jenak-jenak kebimbangan yang terbentang jauh, jauh sampai melampaui tapal batas yang mungkin dicapai sepelontaran batu anak-anak Palestina. Ia tidak lagi menemukan jalan menuju kehidupan selain ini: di kematian.

Ia tak pernah membayangkan bahwa dari titik itu ia kelak akan kehilangan beberapa huruf dari abjad keyakinannya, di tengah gumpalan lahar kata yang panas dan bara perasaan yang menyala-nyala. Dan sekarang, ia bahkan tak dapat memahami suaminya, Albert, seseorang yang selama ini dengan setia selalu ia temani. Rasanya gandengan tangan mereka tak pernah bisa lepas. Atau barangkali ia memang sudah tak mempercayainya lagi.

Ketika itulah, saat-saat kesubliman berubah menjadi kemarahan, ia muntahkan semuanya. Dan sambil mengunyahnya ia berteriak keras-keras penuh perasaan yang menggejolak. ”Demi Tuhan, sekarang saya benar-benar tidak tahu siapa yang lebih kuat diantara mereka.” Sambil menekuri asap rokoknya, suaminya menjawab,”Adalah hak penyerang untuk menentukan warna peperangan.”

”Dengan bersenjatakan batu?” Albert tidak menjawab, ia hanya tersenyum datar sembari mencampakkan puntung rokoknya ke tanah. Namun itu ternyata membuatnya kian marah. Seketika ia melemparkan sandwich-nya dan berteriak penuh emosi. ”Dengan hanya bersenjatakan batu, semua harapan akan pupus musnah ditelan perang yang tak seimbang.”

”Siapa bilang yang kita saksikan ini perang?”
”Lalu apa namanya?”
”Sebutlah ia, sesuatu yang tak dapat dihentikan oleh kata yang lusuh.”
Cathy menatap tanah, terpekur. Sementara gumpalan kekesalan memenuhi rongga dadanya. Sejurus kemudian, ia kembali menatap suaminya. ”Saya tidak melihat mereka lebih beruntung dari puntung rokok itu,”katanya sambil menunjuk puntung rokok yang tergeletak di atas tanah. ”Bukan tidak mungkin.”
”Boleh jadi kehadiranmu menjadi harga bagi kematian mereka.”
”Saya kira kamu tidak sedang memperolok-olokkan saya,’kan.”
”Percayalah, sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh saya bahwa batu kecil mereka ternyata memiliki kekuatan sedahsyat itu. Kekuatan tersebut rupanya tersembunyi di balik sorot mata mereka. Dan mata mereka tak pernah takut pada debu.”

Albert memalingkan mukanya dari tatapan istrinya. ”Barangkali dunia harus membuka matanya kembali,” gumamnya pelan, seakan-akan ia tujukan pada dirinya sendiri.

Dan kesubliman itu makin memadati celah-celah benak Cathy. Sesuatu yang membuatnya kian tak mampu memahami Albert, suaminya. Di depan matanya, seluruh dimensi lain yang menyelimuti kepribadian Albert terlalu luas. Sementara itu, ia merasa terlalu sederhana agar dapat memahaminya. Kebingungan Cathy tampak jelas ketika ia kembali bertanya: ”Apa yang mereka inginkan dari semua ini?”

”Mereka menginginkan sesuatu yang tak mungkin diraih kecuali dengan cara itu.” Mendengar jawaban tersebut Cathy langsung memegang tangan suaminya. Dan dengan tatapan lesu, ia berkata: ”Albert, ah, saya benar-benar tidak dapat memahamimu lagi.” Albert segera memeluk istrinya, dan menyandarkan kepalanya ke dalam lekukan dadanya. ”Mereka tidak memiliki sesuatu yang dapat membuat mereka merasa rugi. Mereka hanya...” ”Yah, mereka memang anak-anak. Mereka masih terlalu kecil. Mereka belum tahu apa arti perang...” potong istrinya.
”Anak-anak dilahirkan untuk kehidupan. Tapi mereka? Mereka? Mereka dilahirkan bersama kematian!” ”Akan tetapi mereka masih terlalu kecil! Hanya kedamaian yang hidup dalam pancaran mata mereka.”

”Perdamaian berarti kebebasan.” (Kegeraman dalam suara-suara tersebut bagai merasuki kata-katanya, atau itu amarah kesedihannya?) Albert kembali menyiagakan kamera yang tak pernah lepas dari tangannya. Sejurus kemudian mereka berdua kembali mengejar serdadu-serdadu Israel yang mulai memuntahkan peluru.

Di mata tentara Israel, segala sesuatu menjelma menjadi batu kemarahan. Bahkan kabel-kabel listrik, tangan-tangan kecil, kaleng-kaleng sirop yang tergeletak di jalan-jalan, semua beralih menjadi benda-benda menakutkan yang setiap saat bisa mematikan. Albert berhenti sejenak, sebuah panorama yang telah lama diimpikan tiba-tiba muncul di depan matanya. Segera saja ia mengabadikan pemandangan langka itu dengan kamera jitunya. Dalam foto itu, tampak wajah seorang bocah yang juga sedang gusar. Sayatan sembilu kesenduan, yang memancar dari kedua bola matanya begitu memilukan, bersekutu erat dengan kedua tangannya yang tampak begitu kekar dan teguh. Prototipe anak-anak Palestina.

Dalam gambar itu juga terlihat potret seorang serdadu Israel yang tampak bagai raksasa bdoh. Air mukanya mengesankan bahwa ia tidak menyadari kekerdilan yang berakar di dalam hatinya, yang terus membuatnya bergidik dirundung ketakutan. Albert memegang pundak istrinya. Ia tersenyum, lalu berkata: ”Coba kita saksikan nanti, apa kata dunia saat menyaksikan potret tentara Israel yang sesungguhnya.”

”Saya tidak pernah tahu kalau kau ternyata membenci orang-orang Israel.”
”Percayalah, saya tidak membenci mereka.”
”Tapi sekarang kamu menunjukkannya.”
”Dengan segala kebengisan mereka? Yah, saya memang membenci mereka!””Bukan suatu kesalahan jika mereka mencintai hidup.”
”Namun adalah zalim jika seseorang mempertahankan kehidupan dirinya dengan merampok umur orang lain.”
”Jadi kamu percaya pada bocah-bocah itu?”
”Ya, seperti keyakinanku pada matahari, dan pada kebenaran yang telah mendorong saya datang kesini. Yakinlah, saya tidak akan sanggup melawan tentara Israel dengan hanya bersenjatakan batu-batu kecil. Misteri kekuatannya tersembunyi dibalik tangan-tangan mereka, Sayang. Bukan pada batu-batu itu.”
”Namun lontaran batu-batu mereka akan berjatuhan, lalu dihancurleburkan oleh peluru.”
”Peluru itu sudah habis sejak ia ditembakkan. Tapi batu-batu mereka tetap abadi, karena bumi akan selalu setia menyimpan pecah-pecahannya.”
”Akan tetapi mereka masih terlalu kecil.”
”Benar. Namun ketika mereka mulai menggenggam batu-batu, mereka bukan lagi anak kecil.”
Khayalan Albert melayang jauh, kemudian dengan tiba-tiba ia mulai berucap:”Semalam kamu menangis. Mengapa? Apa yang terjadi?”
”Tak ada apa-apa. Kecuali tulang belulang yang hancur remuk, sejumlah orang yang dikubur hidup-hidup, kepala-kepala yang terus menerus dihajar pentungan. Tak ada apa-apa. Kecuali hanya kematian. Yah, kematian tanpa harga.”
”Saya ingin kamu kembali ke Amerika.”
”Saya tidak akan meninggalkanmu seorang diri.”
”Yakinlah, kamu tidak akan sanggup membawa beban lebih dari ini. Mereka semua ketakutan. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri kita jika kita membuat mereka marah?”
Sebuah tatapan penolakan dilayangkan Cathy kepada suaminya. Sebentar kemudian ia mengingatkan: ”Kebijakan tak pernah bisa berdampingan dengan ketakutan, Albert!”
”Pekerjaan kita penuh bahaya. Kuharap, kembalilah, perca...” Albert tidak sempat menyelesaikan kata-katanya. Tiba-tiba ia berlalri cepat, mengejar serdadu-serdadu Israel yang kembali menembakkan senjata dan menyemburkan gas air mata.

Seorang serdadu Israel yang takut melihat sorot matanya segera menangkapnya. Mereka memukulinya ramai-ramai. Gadis kecil itu tampak begitu suci. Ia bahkan lebih suci dari cahaya fajar. Yah, fajar yang dibenci oleh serdadu-serdadu itu. Pemandangan tadi membuat Albert kehilangan kesabaran. Ia tak sanggup melanjutkan pemotretannya lagi, ia tak tahan lagi berdiam diri bagaikan fokus kamera. Seluruh kemarahannya tumpah dalam teriakannya: ”Kalian akan membunuhnya!”

Seorang serdadu Israel menatapnya, dengan dendam. Ia kemudian mendorong Albert agar menjauh. Ia juga merampas kamera dari tangannya, menghempaskannya ke tanah dan menginjaknya dengan kedua kakinya. Albert berusaha membela diri dan istrinya, yang telah menjadi pasangan hidupnya sejak ia menjadi wartawan. Namun serdadu Israel itu tidak memberinya kesempatan untuk berdiri. Ia bahkan memukul kepalanya. Ia mengucapkan begitu banyak kata tanpa arti yang jelas. Ia tampak begitu dendam bagai topan, tapi sekaligus takut bagai pasir.

Cathy segera menghampiri suaminya sembari berteriak sekeras-kerasnya. Semua kata-kata busuk, yang mungkin dipakai mengata-ngatai serdadu-serdadu keparat itu, ia keluarkan, sambil membalut luka suaminya. Ia lalu membawanya ke rumah sakit terdekat. Sepanjang malam Cathy duduk menunggui suaminya. Pemandangan ini seperti menghidupkan luka-lukanya. Perlahan suaminya tampak mulai membuka matanya. Seketika ia percaya bahwa musibah itu terasa akan lebih ramah. Dengan senyum dibuat-buat, Cathy berkata: ”Saya tahu kamu belum akan mati. Tenanglah. Kita tak akan mendiamkan kejadian ini. Dunia pasti akan tahu apa yang sesungguhnya sedang terjadi. Tidak usah khawatir, saya telah membelikan kamera baru untukmu.”

”Cathy, sayangku, demi aku kembalilah ke Amerika.”
”Setelah kejadian ini? Mustahil!”
”Mereka semua ketakutan.”
”Tidak, sebelum aku membelalakkan mata dunia dengan kenyataan yang sesungguhnya.”
Albert terdiam sejenak. Sembari menahan rasa sakit yang amat sangat di kepalanya, ia berucap:
”Orang boleh menemukan kebenaran di setiap tempat. Namun hanya disini orang dapat merasakannya.”
”Saya akan mengadukan serdadu-serdadu yang menyerangmu ke pengadilan,”ujar Cathy. Albert kembali meraba kepalanya dengan kepalan tangannya. Ia menyeringai, lalu tertawa dan berkata: ”Jangan berbuat tolol.”
”Kamu mulai latah, Albert.”
”Saya telah merenung begitu lama, hingga akhirnya saya bisa memahami misteri permainan ini.”
”Wah, boleh juga punya suami filosof.”
Air mukanya tiba-tiba berubah seketika seakan-akan mengingat sesuatu, kemudian ia bertanya: ”Apa yang terjadi dengan gadis kecil itu?”
”Serdadu-serdadu Israel memasuki rumah-rumah penduduk dan memukuli mereka tanpa ampun, lalu merampasi harta benda mereka.”
”Apa yang terjadi dengan gadis kecil itu?” Albert mengulangi pertanyaannya dengan nada tinggi.
”Ia tewas!”
Mendengarnya Albert langsung berdiri dari tempat tidurnya. Ia merasa begitu sedih dan murung. Ia menatap ke kejauhan, menatap kekosongan. Ia mendesis:”Tak seorang pun menolongnya.”
”Mereka mengikutinya sampai ke rumah sakit. Tapi kemudian mereka membunuhnya di sana,” ujar Cathy. ”Sendiri?” tanya Albert.
”Orang-orang Israel itu tidak percaya pada jumlah yang kecil.”

Cathy terdiam sejenak. Lalu dengan nada suara tinggi ia mengatakan: ”Mereka harus membayar harga kegilaan mereka akan darah yang tercurah.” Kemudian Cathy keluar ruangan itu. Air matanya tumpah. Setiap detik berlalu begitu bengis, sebengis wajah serdadu-serdadu Israel yang berkeliaran di jalan-jalan. Begitu menyakitkan! Pahit seperti darah bocah-bocah cilik itu. Cathy kembali menenteng kameranya, menelusuri jalan-jalan Palestina. Ia mencari kisah baru, tentang seorang bocah yang mengacungkan tangan kemenangan untuk sebuah perang yang belum dimulai, tentang seorang bocah yang mengacungkan tangan demi cinta, dan perang!

Seorang bocah kecil, yang sedang mencari mimpi-mimpi kepahlawanan, mendekati seorang serdadu Israel, lalu melemparnya dengan sebuah batu kecil. Matanya nyalang dan menyala. Sama sekali tidak ada ketakutan terpancar dari sorot matanya. Di matanya, masa kanak-kanaknya tampak seperti sebuah mahluk baru, tempat segala sesuatu lebur menjadi satu, kemudian dengan tiba-tiba menemukan betapa tidak berartinya tatapan matamu padanya, betapa tiada bertepinya tempat bersandar seluruh angan-anganmu. Masa kanak-kanak di matanya bagai garis-garis tanpa warna yang saling bersilangan. Dan kau tahu, setiap bocah Palestina membawa mahluk seperti ini dalam bola matanya.

Serdadu itu berusaha menagkapnya. Namun tubuhnya yang ringan membuat si serdadu gagal menghisap darahnya dan meremuk-remuk tulang belulangnya yang masih rawan. Cathy segera menjepret adegan yang begitu berani yang diperagakan bocah tersebut. Kebahagiaan terbayang jelas di wajahnya melihat bocah kecil itu berhasil lolos dari kejaran serdadu Israel. Kini ia tahu, bukan hanya orang-orang Indian yang pandai menguliti kepala manusia! Akan tetapi ia masih bisa menemukan sejumlah alasan yang mungkin membenarkan orang-orang Indian itu melakukannya.

Serdadu Israel itu segera sadar akan kehadiran Cathy. Amarahnya meledak. Ia berusaha mengusir Cathy dengan kasar. Namun sebuah batu, yang tiba-tiba dilemparkan si bocah untuk kedua kalinya, memaksa serdadu Israel itu meninggalkannya. Ia segera memburu kencang, sangat kencang, mengejar si bocah sembari berteriak mengancam akan membunuhnya. Serdadu itu menebarkan peluru senapannya ke segala arah. Akan tetapi tubuh bocah kecil itu enggan disasari peluru.

Cathy berusaha mendekati bocah-bocah pembangkang tersebut. Ia melihat seorang bocah yang sejak tadi mengawasinya. Si bocah tampak bingung. Cathy mendekatinya dengan hati-hati. Cathy sama sekali tidak merasa kalau bocah itu takut atau ragu padanya. Ia lalu memegang kedua tangan kurusnya yang berlumuran darah dan debu bebatuan. Dan dengan hangat ia mendaratkan sebuah ciuman ke jidatnya. Oh, betapa ia merasa begitu kerdil di depan sang pembangkang kecil. Kemudian dilepaskannya kalung kesayangan yang selama ini dipakainya. Ia merasa kalung itulah satu-satunya harta yang paling berharga baginya. Ia lalu memasangkannya ke leher si bocah, dan menatapnya sendu. Pelan-pelan anak itu menjauhi Cathy, kemudian memungut sebuah batu kecil dan menyerahkannya padanya. Itulah hadiah termahal dari bocah pembangkang. Barangkali bocah tersebut belum terlalu memahami makna tindakan wartawati Barat itu padanya. Namun ia agaknya merasa bahwa si wartawati tidak berbeda jauh dengan ibunya yang selalu menunjukinya tempat-tempat yang banyak menyimpan pecahan batu.

Cathy menggenggam batu kecil itu. Ia merenunginya dalam-dalam. Ia kemudian pergi seorang diri. Mata bocah pembangkang tadi masih terus memandangi kepergiannya. Hingga akhirnya Cathy menjauh bersama hadiah termahalnya. Dan si bocah pun kembali memungut batunya, kembali bergelut dengan serdadu-serdadu yang terus memburu dengan rasa haus akan kucuran darahnya. Dari kejauhan Cathy kembali menatap si bocah kecil. Semua peristiwa di masa lalu kembali terekam cepat dalam ingatannya. Kini semua menjadi jelas. Sekaligus mengerikan. Masa kanak-kanak tidak mungkin sirna di tengah negeri perdamaian dan anak-anak. Cathy masih menatap anak tadi seakan hendak menyimpannya dalam matanya, selamanya.

Bocah kecil itu berlari bagai anak panah, melemparkan batu kecilnya, dan meneriakkan kata-kata yang tak dapat dipahami Cathy. Sekalipun ia yakin bahwa kata-kata itulah yang menghidupkan revolusi pada kedua bola mata mereka, pada telapak kaki mereka. Si bocah kecil terus meneriakkan ”Allahu Akbar.” Namun tiba-tiba saja serdadu Israel menggilasnya dengan kendaraan lapis baja. Bocah kecil itu berusaha berlari dan menghindar. Ia berusaha mencari dada ibunya. (Dia bocah kecil. Mengapa mobil berlapis baja harus menjadikan tubuhnya yang masih hijau sebagai batu-batu jalanan?)

Seakan kesurupan Cathy menghampirinya. Ia berteriak: ”Tidak! Tidak! Tidak!” Namun teriakannya tak’kan pernah sampai ke telinga siapa pun. Kendaraan lapis baja mengubah tubuh kecil yang masih hijau itu sebagai mimpi yang tak sempat menjadi kenyataan. Cathy melemparkan dirinya yang remuk redam ke atas tanah. Dipeluknya erat-erat bocah yang masih berlumuran darah itu. Si bocah masih mengenakan kalung pemberiannya. Dan tersenyum seperti bocah lainnya. Itu wajah seorang bocah. Mengapa mereka mengotorinya dengan darah? Bahaya apakah yang mungkin ditimbulkan oleh sebuah batu kecil, dari seorang bocah kecil, bagi para serdadu bersenjata api otomatis itu?

Cathy menggoncang-goncangkan tubuh si bocah. Ia berusaha membangunkannya. Bocah itu terlalu lembut. Mengapa ia harus mati? Umurnya pasti belum sampai enam tahun. Akan tetapi mengapa ia harus mati begitu cepat? Cathy menatap gusar ceceran darah yang mengucur ke bumi. Kemudian ia menatap tangannya sendiri yang masih menggenggam hadiah termahal dari si bocah. Ia merasa seperti dihentakkan oleh kesedihan dan kemarahan.

Lalu tiba-tiba ia berteriak sekuat-kuatnya, dibangkitkan oleh kekuatan yang dibawa bocah-bocah pembangkang di tanah jajahan: ”Tidak! Tidak! Tidak!” Dan serta merta hadiah si bocah kecil ia lontarkan sekuat tenaga ke arah serdadu-serdadu Israel. Cathy terus berteriak, terus memungut batu-batu bersama bocah-bocah lainnya, dan melemparkannya ke tentara Israel itu. Ia terus dan terus membalaskan dendam demi darah suaminya dan darah bocah kecil itu.

Biarkan aku jadi orang Palestina!
Biarkan aku jadi orang Palestina!

Li Man Tahtamil al-Rashshah. Jihad al-Rajbi. Filistin Muslimah, 1993. Terjemahan Anis Matta. Pustaka Firdaus dan Yayasan Sidik, 1995.


Baca Selengkapnya......

25.12.08

MK Hapus Sistem Nomor Urut

JAKARTA (SINDO) -Mahkamah Konstitusi (MK) membatalkan aturan tentang penentuan anggota legislatif terpilih berdasarkan 30 % bilangan pembagi pemilih (BPP) dan nomor urut. Dengan demikian, partai politik harus menggunakan suara terbanyak untuk menentukan anggota legislatif.

Ketua Mahkamah Konstitusi Mohammad Mahfud MD mengatakan, Pasal 214 huruf a,b,c,d dan, e Undang-Undang (UU) No 10/2008 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD, bertentangan dengan UUD1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.

"Maka penentuan calon terpilih harus didasarkanpada calon legislatif yang mendapat suara terbanyak secara berurutan dan bukan atas dasar nomor urut terkecil yang telah ditetapkan," kata Mahfud MD dalam amar putusan yang dibacakan di Gedung MK, Jakarta, kemarin.

Dalam pertimbangan mahkamah disebutkan, setiap calon anggota legislatif mempunyai kedudukan dan kesempatan yang sama di hadapan hukum. Artinya, ketentuan pasal tentang BPP dan nomor urut mengandung standar ganda dan dapat dinilai memberlakukan hukum yang berbeda.

Hakim konstitusi Muhammad Alim menambahkan, pemberlakuan ketentuan yang memberikan hak kepada calon terpilih berdasarkan nomor urut berarti memasung suara rakyat untuk menentukan pilihan.



Pertimbangan mahkamah selanjutnya, pemilihan anggota legislatif dilakukan dengan sistem proporsional terbuka. Sistem ini membuat rakyat secara bebas memilih dan menen¬tukan calon anggota legislatif. Dengan begitu, akan lebih sederhana dan mudah ditentukan siapa yang berhak terpilih, yaitu calon yang memperoleh suara atau dukungan rakyat paling banyak.

"Keinginan rakyat me¬milih wakil-wakil yang diajukan oleh partai politik dalam pemilu sesuai dengan kehendak dan keinginan mereka dapat terwujud," kata Alim.

Sesuai konstitusi negara ini, kedaulatan tertinggi berada di tangan rakyat. Dalam berbagai kegiatan pemilu, rakyat juga langsung berhak memilih siapa yang mereka kehendaki. "Rakyat sebagai subjek utama dalam prinsip kedaulatan rakyat tidak hanya ditempatkan sebagai objek oleh peserta pemilu demi mencapai kemenangan semata," sebut Alim.

Mahkamah menilai aturan tentang 30% BPP dan no¬mor urut telah menusuk rasa keadilan dan melanggar kedaulatan rakyat. Pelanggaran tersebut karena pilihan masyarakat tidak diindahkan dalam penetapan ang¬gota legislatif. Misalnya, jika ada dua orang calon yang mendapatkan suara yang berbeda secara ekstrem, calon yang mendapat suara banyak terpaksa dikalahkan oleh calon yang mendapat suara sedikit dengan nomor urut lebih kecil.
"Tidak ada rasa dan logika yang dapat membenarkan bahwa keadilan dan kehendak rakyat sebagai pemegang kedaulatan rakyat dapat dilanggar dengan cara seperti itu," lanjut Alim.

Meski Mahkamah menyatakan pasal tersebut tidak lagi memiliki kekuatan hu¬kum mengikat, hal itu tidak akan menimbulkan kekosongan hukum, walaupun tanpa revisi undang-undang maupun pembentukan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perppu). "Putusan Mahkamah demikian bersifat selfexecuting," kata Alim.
Artinya, KPU, berdasar¬kan kewenangan Pasal 213 UU 10/2008, dapat menetapkan calon terpilih sesuai putusan MK dalam perkara ini. Hakim konstitusi Maria Farida berbeda pendapat. Maria tidak setuju Pasal 214 dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945.

"Penetapan calon terpilih seperti diatur dalam Pasal 214 UU No 10/2008 merupakan tindakan afirmatif dalam rangka memberikan peluang bagi keterpilihan calon perempuan. Karena itu, penetapan penggantian dengan suara terbanyak akan menimbulkan inkonsistensi terhadap tindakan afirmatif tersebut," ujar Maria.

Dengan membatalkan Pasal 214 huruf a sampai e, kata Maria, penetapan calon terpilih dilakukan berdasar¬kan siapa yang meraih suara terbanyak. Akibatnya, sistem zipper, yakni sistem yang mengharuskan partai menempatkan minimal satu perempuan di antara tiga calon, menjadi tidak berguna.

Tindakan afirmatif mendorong perempuan lebih ba¬nyak di DPR, DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota, menjadi hilang. Suara terbanyak adalah identik dengan menafikan tindakan afirmatif tersebut.
Pada kesempatan yang sama, Mahkamah juga memutuskan tetap mempertahankan DPR, DPD, dan DPRD, serta memutuskan untuk mempertahankan ketentuan kuota perempuan sebesar 30% dan terdapat sekurang-kurangnya satu perempuan bakal calon pada setiap tiga orang di daftar bakal calon, seperti yang diatur dalam Pasal 55 ayat (2) UU Pemilu.

Menurut mahkamah, pasal itu tidak melanggar kons¬titusi. "Ketentuan Pasal 55 ayat (2) merupakan peletakan dasar-dasar yang adil dan secara sama bagi laki-laki dan perempuan," Ian jut Alim.

Mendengar putusan ter¬sebut pemohon langsung terlihat gembira. Muhammad Sholeh, pemohon yang juga calon anggota DPRD Jawa Timur Periode 2009-2014 dari Partai Demokrasi Indo¬nesia Perjuangan (PDIP) nomor unit 7, mengatakan, dengan putusan ini semua calon harus berjuang untuk mendapatkan posisinya. "Ini bukan hanya untuk kepentingan saya, tapi juga kepentingan bersama," katanya.

Hal senada disampaikan pemohon lain, Sutjipto, calon anggota legislatif dari Partai Demokrat. "Buat saya yang berada pada nomor unit 1, sebenarnya putusan ini tidak berpengaruh.Tapi ini untuk demokrasi dan rasa keadilan bagi calon legislatif lain," katanya. Putusan ini memberikan perlakuan yang sama di depan hukum antara no¬mor urut besar dengan calon legislatif yang berada di nomor urut kecil.

Tidak Ada Hambatan

Mantan Ketua Panitia Khusus Rancangan Undang-Undang Pemilu Ferry Mursyidan Baldan meminta semua pihak menghormati putusan MK. Dia mengusulkan segera digelar pertemuan konsultasi antara pemerintah, DPR dan KPU untuk menindaklanjuti putusan tersebut. "Atau KPU menelaah secara yuridis untuk kemudian dikonsultasikan dengan pemerintah dan DPR. Hal ini harus segera dilakukan," ujar Ferry.

Menanggapi kekhawatiran beberapa pihak, Mahfud MD menambahkan, dengan putusan tersebut dia menjamin tidak akan terjadi hambatan yang pelik. Alasannya, pihak terkait, dalam hal ini KPU, pada sidang pleno di MK pada 12 Desember lalu, sudah menyatakan siap. "KPU akan melaksanakan putusan mahkamah jika ha¬rus menetapkan anggota legislatif dengan suara terbanyak," tambahnya.

Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Andi Nurpati menyatakan akan membuat peraturan untuk melaksanakan putusan tersebut. "KPU dan tentu saja seluruh peserta pemilu, terutama parpol, calon anggota DPR dan DPRD, harus mengikuti putusan itu karena sudah dinyatakan berten-tangan dengan UUD 1945," katanya.

Mengembalikan Hak Rakyat

Direktur Eksekutif Centre for Electoral Reform (Cetro) Hadar Navis Gumay mengatakan, putusan MK adalah bonus akhir tahun bagi pemilih. Dengan putus¬an tersebut, kedaulatan di tangan pemilih. "Pilihan masyarakat tidak lagi dipelintir oleh parpol," urainya pada SINDO kemarin. Dia me¬nambahkan, putusan MK tersebut merupakan putusan yang progresif. "Ini peringatan telak bagi DPR untuk tidak membuat peraturan yang manipulatif dan untuk kepentingan parpol dalam jangka pendek," gugatnya.

Menurut Ketua Umum Partai Hanura Wiranto, putusan MK ini memperlihatkan kemenangan untuk mengembalikan hak rakyat. "Negara ini milik rakyat. Mahkamah telah meng¬hormati hak rakyat," ujarnya.
Ketua DPP Partai Demo¬krat Bidang Politik Anas Urbaningrum menyatakan sejak awal partainya konsisten mendukung penetapan calon terpilih dengan model suara terbanyak. Bagi Anas, suara terbanyak lebih adil, baik dalam konteks sesama calon maupun adil terhadap suara rakyat. (m purwadi/kholil/ ahmad baidowi)

Baca Selengkapnya......

25.11.08

Amanat dan Jabatan

Pada suatu hari bibi Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz Ra. pergi ke rumahnya dengan maksud hendak meminta tambahan dari Baitulmal. Ketika dia masuk, dia melihat keponakannya yang Amirul Mukminin itu sedang memakan kacang adas dan bawang (makanan rakyat biasa).

Melihat bibinya datang Umar bin Abdul Aziz menghentikan makannya. Beliau sudah mengetahui maksud kedatangan bibinya. Umar bin Abdul Aziz kemudian mengambil sedirham uang perak, lalu dibakarnya diatas api. Sesudah cukup panas, ia bungkus uang perak itu dengan kain dan diberikan ke tangan bibinya. Katanya,”Inilah tambahan yang bibi mintakan itu!”

Karuan saja, begitu tangan wanita itu menggenggam bungkusan tersebut ia menjerit kepanasan. Lalu Umar berkata menjelaskan,”Kalau api dunia terasa begitu panas, bagaimana dengan api akhirat kelak yang akan membakar aku dan bibi karena menyelewengkan harta kaum muslimin.”

Sumber: Aniesul Mukminin, Shafwak Sa’dallah al Mukhtar.

Baca Selengkapnya......

5.9.08

Syeikh Ahmad Yasin : Menggerakkan Dunia dari Kursi Roda

fotoDia adalah seorang mukmin yang merdeka meski seluruh hidupnya dibelenggu dengan terali besi. Itulah gambaran indah yang mencerminkan kehidupan Syaikhul Mujahidin, Guru para Mujahid dan perlawanan ini. Meskipun sebenarnya gambaran tersebut kalah indah dengan kalbunya yang menghembuskan kehidupan serta tekadnya yang tidak pernah lumpuh dan tidak terbelenggu oleh ikatan penjara. Beliau adalah cakrawala yang luas serta pikiran yang hidup yang tidak mengenal batas. Demikianlah kehidupannya di penjara dan begitulah kisahnya saat berada di medan dakwah dan perlawanan, seperti yang dituturkan oleh orang-orang yang mendampinginya, mengenai sosok yang tidak mampu bergerak, namun bisa menggerakkan dunia.

Tidak salah bila kemudian Dr. Kamal al Mishri, seorang kolomnis asal Mesir di situs islamonline menulis tentang sosok manusia istemewa ini dalam sebuah artikelnya dengan judul “Al Syaikh Yaseen .. Al ‘Aqid Alladzi Aqama al ‘Alam” (Syaikh Yasin .. Orang Lumpuh yang Membangunkan Dunia). Kata Kamal al Mishri, ketika Anda melihat (realita fisiknya) kemudian Anda mendengar capaian-capaian yang dihasilkan, Anda akan memahami betul firman Allah swt di dalam hadist qudsi, “Maka jika Aku mencintainya, Aku adalah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Aku adalah penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, Aku adalah tangannnya yang dia gunakan untuk memukul, dan Aku adalah kakinya yang dia gunakan untuk berjalan.” (HR. Bukhari).


Kalbu yang senantiasa menghembuskan nafas kehidupan bagi umat dan bangsanya serta tekad yang tak pernah kenal lumpuh dan belenggu ini telah menjadikan kata-katanya penuh hikmah bagi siapa saja yang mendengarnya, sekaligus menjadi rudal yang menggetarkan bagi musuh-musuhnya.

Dia bukanlah seorang presiden ataupun seorang raja. Dia hanyalah seorang lelaki lumpuh yang membangun ide perlawanan hingga menjadi sosok yang tidak disebut kecuali dengannya. Sampai hari ini, setiap orang baik lawan maupun kawan tetap menaruh hormat kepadanya. Namanya senantiasa disebut di seluruh dunia. Dialah Amir Mujahidin Palestina, mujahid Ahmad Yasin, gugur perlawanan yang gugur oleh tangan-tangan biadab Zionis Israel dalam serangan rudal dari pesawat heli tempur Apache buatan Amerika, selepas shalat subuh di masjid kota Gaza, Senin 22 maret 2004 lalu.

”Wahai anak-anakku, telah tiba saatnya kalian kembali kepada Allah swt., meninggalkan berbagai sorak kehidupan dan menyingkirkannya ke tepi jalan. Telah tiba saatnya kalian bangun dan melakukan salat subuh berjamaah, saatnya kalian menghiasi diri dengan akhlak mulia, mengamalkan kandungan al Qur’an, serta meneladani Muhammad saw.

Aku mengajak kalian wahai anak-anakku untuk shalat tepat waktu. Lebih dari itu, aku mengajak kalian, wahai anak-anakku, untuk mendekat kepada Nabi kalian yang agung.

Wahai para pemuda, aku ingin kalian mengenal dan menyadari makna tanggung jawab, tegar menghadapi kesulitan hidup, meninggalkan keluh kesah, menghadap kepada Allah swt., banyak meminta ampunan kepada-Nya agar Dia memberi rezeki kepada kalian, menghormati yang tua dan menyayangi yang muda. Aku ingin kalian tidak terlena oleh saluran-saluran lagu audio visual, melupakan kata-kata yag mengobral cinta, serta menggantinya dengan kata amal, kerja, dan zikir kepada Allah. Wahai anak-anakku, kuharap kalian tidak sibuk dengan musik dan terjerumus ke dalam arus syahwat.

Wahai putriku, aku ingin kalian berjanji kepada Allah mempergunakan hijab secara benar. Aku meminta kalian berjanji kepada Allah peduli dengan agama dan Nabi kalian yang mulia. Jadikanlah ibunda kalian, Khadijah dan Aisyah, sebagai teladan. Jadikan mereka sebagai pelita hidup kalian. Haram hukumnya bagi kalian membuat usaha para pemuda untuk menjaga mata mereka menjadi kendur dan surut.

Kepada semuanya, aku ingin kalian bersiap-siap menghadapi segala sesuatu yang akan datang. Bersiaplah dengan agama dan ilmu pengetahuan. Bersiaplah untuk belajar dan mencari hikmah. Belajarlah bagaimana hidup dalam kegelapan yang pekat. Latihlah diri kalian agar dalam beberapa saat hidup tanpa listrik dan perangkat elektronik. Latihlah diri kalian agar dalam sementara waktu merasakan kehidupan yang keras. Biasakan diri kalian agar dapat melindungi diri dan membuat perencanaan untuk masa depan. Berpeganglah kepada agama kalian. Carilah sebab-sebabnya dan tawakallah kepada Allah.”

Itulah sepenggal pesan yang disampaikan pendiri dan tokoh spiritual Gerakan Perlawanan Islam Hamas ini, kepada anak-anak muda Palestina. Melalui kata-kata yang jelas dan tulus bersumber dari kalbu tanpa dibuat-buat, dengan spontanitas yang jujur serta kejelasan yang menerangkan jalan dan memimpin perjalanan, melalui berbagai makna kasih sayang yang dapat mengarahkan para pemuda dan menuntun mereka, beliau berbicara seraya membaca kondisi jiwa mereka. Beliau berbicara kepada mereka lewat realitas kondisi yang ada sehingga mampu membangun sebuah perjuangan yang membutuhkan keimanan dan kesiapan semaksimal mungkin. Lalu sisanya diserahkan kepada Allah swt.

Syaikh Ahmad Yasin adalah sosok manusia intimewa dan unik pada zamannya, tokoh besar dan bintang bagi orang-orang sejenisnya, menjadi cahaya bagi rekan-rekannya, sosok menakjubkan bagi mereka yang hidup di masanya, perhiasan bagi tokoh setarafnya, pahlawan di era kekalahan, pemberani di tengah iklim ketakutan, pemimpin di samudera kelemahan, raksasa di tengah kehinaan, kemuliaan di medan kerendahan. Sosok yang menjadi harapan di tengah segala kebuntuan, sosok ketegaran dalam menghadapi kekalahan dan keruntuhan. Dia adalah pribadi yang memiliki hikmah di tengah kerancuan, ketergelinciran akal, kebutaan mata hati dan keimanan di tengah-tengah suasana keterkoyakan dan hilangnya identitas. Dia adalah sosok yang meneguhkan keyakinan pada pertolongan Allah dan janji-Nya terhadap kaum mukmin di tengah kegelapan, kesesatan, kebencian para musuh, dan kecemasan jiwa.

Seperti diungkapkan Prof. Dr. Taufiq Yusuf al Wa’i, dalam karyanya ”Qaadat al-Jihaad al-Filistiini fii al-Ashr al-Hadiits: Kifaah, Tadhiyyah, Butuulaat, Syahaadaat”, semua gambaran di atas terdapat pada sosok lumpuh yang tak mampu berdiri ini; sosok yang kedua tangannya pun lumpuh tidak mampu membawa sesuatu; sosok yang kurus dan lemah; tubuh yang terserang oleh berbagai penyakit; penglihatan yang telah kabur kecuali hanya seberkas sinar dari satu mata; serta penderitaan dan sakit yang tak kunjung reda. Bukankah ini sesuatu yang menakjubkan? Bukankah ia merupakan tanda kebesaran Tuhan dan wujud anugerah-Nya? Sosok tersebut hidup untuk misi dan untuk umatnya. Ia menghabiskan usianya dalam dakwah. Ia adalah jihad yang terus berjalan, teladan yang terus bergerak, panutan yang memancarkan cahaya dan keimanan, serta pemahaman dan pengetahuan di tengah jarangnya orang yang tulus, di tengah sedikitnya keikhlasan, serta di tengah lenyapnya suara kebenaran dan ketegasan. Syaikh Yasin datang sebagai pemimpin bagi para mujAhed, tokoh bagi para dai, guru yang bijak dan teladan yang agung bagi para pendidik. Tubuhnya yang kurus, kelumpuhannya, dan penyakit yang kronis membuatnya tidak mampu berjuang dengan senjata. Karena itu, beliau berjuang dengan senjata hikmah, dengan pedang pembinaan dan penataan, dengan meriam keimanan, serta dengan bom kesabaran, keteguhan, dan ketegaran.

Pesan-pesan Syaikh Yasin tidak saja diarahkan kepada para pemuda, namun juga kepada para pemimpin. Sebelum syahid menjemputnya pada 22 maret 2004, Syaikh Ahmad Yasin telah menyiapkan surat yang ditujukan kepada pemimpin Arab yang akan mengadakan KTT Arab di Tunisia pada 28 Maret 2004. Di antara isi surat tersebut adalah sebagai berikut:

Tidak diragukan bahwa apabila bangsa Arab mulia, Islam juga menjadi mulia. Pernyataan ini hanya ingin menunjukkan besarnya amanat yang kalian emban—semoga Allah memberikan taufik kepada kalian untuk berbuat demi kebaikan umat—sebagai pihak yang Allah percaya untuk memimpin masa kini dan masa depan umat. Rasulullah saw. Bersabda, “Allah akan bertanya kepada setiap pemimpin perihal kepercayaan yang Dia berikan, apakah ia menjaganya atau mengabaikannya.” Karena itu, takutlah kepada Allah dalam memperlakukan umat Islam yang telah dibidik oleh para musuh Allah dari busur yang sama.

Pada saat ini di hadapan Anda terdapat banyak tantangan besar. Rakyat Anda sedang menantikan berbagai keputusan yang Anda tandatangani. Semuanya merupakan harapan agar konferensi tingkat tinggi ini sepadan dengan tantangan yang sedang kita hadapi. Kita semua tentu mengetahui bahwa tantangan terbesar itu adalah persoalan sentral bangsa Arab dan umat Islam. Yaitu persoalan Palestina. Saya sangat berharap konferensi tingkat tinggi ini akan menghasilkan sesuatu yang mengangkat harkat bangsa Palestina yang tetap ingin meneruskan perjalanan jihad mereka sampai Allah mewujudkan kemenangan seperti yang kita inginkan, yang dengan itu Allah mengangkat kemuliaan umat ini.

Saya menyerukan kepada Anda semua agar konferensi ini memerhatikan berbagai persoalan berikut yang bisa membantu penyelesaian masalah Palestina.

Pertama, tanah Palestina adalah tanah milik bangsa Arab dan umat Islam yang telah dirampas oleh kekuatan senjata bangsa Yahudi Zionis. Ia hanya bisa kembali dengan kekuatan senjata. Ia merupakan tanah wakaf Islam yang tidak boleh dilepaskan walaupun hanya satu jengkal, meskipun pada saat ini kita tidak memiliki kekuatan senjata untuk membebaskannya.

Kedua, jihad Palestina merupakan hak legal rakyat Palestina. Ia merupakan fardu ain bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan. Karena itu, penyebutan jihad sebagai tindakan terorisme oleh para musuh Allah adalah kezaliman besar yang ditolak oleh bangsa Palestina. Ia juga ditolak oleh bangsa-bangsa Arab dan Islam. Kami berharap konferensi tingkat tinggi ini bisa menegaskan sikapnya secara sangat jelas guna mendukung perjuangan bangsa kami.

Ketiga, bangsa kami yang dengan berani memasuki kancah perang yang memang wajib atas mereka, layak mendapatkan berbagai bentuk sokongan dan bantuan dari seluruh pemimpin umat. Mereka membutuhkan bantuan ekonomi guna mendukung ketegaran mereka. Pasalnya, bangsa zionis yang jahat itu telah menghancurkan segala fasilitas kehidupan yang dimiliki oleh penduduk setempat dan merampas harta mereka. Bangsa Palestina juga membutuhkan bantuan militer, keamanan, informasi, moral, diplomasi, dan berbagai bentuk bantuan lainnya yang bisa menolong mereka dalam melanjutkan jihadnya. Mereka berharap konferensi tingkat tinggi ini bisa mewujudkan semua itu dengan ijin Allah.

Keempat, kami menyerukan kepada kalian untuk menghentikan segala bentuk tekanan yang datang dari musuh, menutup kedutaan mereka, konsulat mereka, dan kantor-kantor dagang mereka, serta memutuskan hubungan dan kerja sama dengan mereka.

Kelima, umat Islam mempunyai berbagai peluang, potensi, dan kekuatan yang membuatnya mampu menyelesaikan berbagai persoalan internalnya dan membalas tindakan brutal para musuh. Saya berpendapat bahwa telah tiba saatnya bagi umat ini untuk melaksanakan firman Allah swt.,

“Berpeganglah kalian semua kepada tali Allah dan jangan berpecah belah.”

“Orang-orang kafir, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Kalau kalian tidak mau berjuang bersama akan terjadi fitnah dan kerusakan besar di muka bumi.”

Keenam, Masjid al-Aqsa tengah memanggil Anda. Bangsa zionis telah menyiapkan seperangkat alat untuk menghancurkan tiang-tiang dan bangunannya. Lalu siapa lagi setelah Allah yang akan memerhatikannya kalau bukan kalian.

Ketujuh, kami mengajak kalian untuk mempersembahkan segala bentuk dukungan bagi saudara-saudara kita di Irak agar mereka terlepas dari pendudukan Amerika. Sebab, membela Irak dan rakyatnya merupakan bagian dari pembelaan terhadap negara dan bangsa Palestina.

Saudara-saudara yang terhormat

Itulah yang ingin saya pesankan, sebab Rasulullah saw. mengajarkan kepada kita bahwa agama adalah nasihat. Saya memohon kepada Allah semoga Dia memberikan kata sepakat kepada kalian semua untuk membela agama-Nya serta menyatukan barisan kalian di atas sesuatu yang menjadi kebaikan dan kemuliaan umat.

Dari saudaramu,

Ahmad Yasin.

Pendiri Gerakan Perlawanan Islam (HAMAS)

Gaza – Palestina.

Syaikh Ahmad Yasin mampu mengatasi keterbasan fisiknya dan melanjutkan perjalanannya dengan tekad kuat yang tidak mampu dilakukan oleh orang sehat sekalipun karena perjalanan jihadnya penuh dengan sikap tegar, heroik, dan teguh di atas prinsip. Berikut kami sadurkan gambaran sosok mujAhed dan dai yang tumbuh dari kondisi yang penuh keterbatasi fisik ini.


Tokoh Semasa di Negeri Terjajah

Masa kecil Ahmad Yasin dihiasi dengan berbagai peristiwa dan kejadian. Dengan berbekal kesabaran dan keimanan, ia mampu melewati berbagai tantangan yang ia hadapi, hingga menjadi pemimpin para mujahid sampai kemudian Allah mewujudkan impiannnya gugur sebagai syahid di tangan kotor zionis Israel. Lalu, bagaimana situasi dan kondisi yang menyertai pertumbuhan Syaikh Ahmad Yasin? Bagaimana ia menjalani awal-awal kehidupannya? Bagaimana ia mampu mengalahkan keterbatasan fisiknya? Semua jawaban pertanyaan ini dipaparkan dalam buku ”Ahmad Yasin: al Dzahirah al Mu’jizah wa Usthurah al Tahaddi” (Ahmad Yasin: Fenomena Mena’jubkan dan Legenda Perlawanan) karya Ahmad Abu Yusuf.

Ahmad Yasin lahir pada tahun 1936 M di desa Jurah. Sebuah desa yang sangat mempersona dan indah, desa yang makmur dan kaya. Teletak di pinggiran kota Majdal sebelah selatan kota Gaza. Tepatnya di bekas reruntuhan kota bersejarah Asqelan yang teletak dekat pantai Laut Tengah, di mana perang salib terjadi. Desa tersebut dikelilingi oleh perkebunan jeruk, tin, zaitun, anggur, dan berbagai tanaman hijau lainnya. Penduduknya bekerja sebagai petani dan nelayan. Mereka memiliki ratusan sampan kecil untuk mengarungi lautan dari pantai Rafah ke Thanturah. Di sana terdapat lembah semut seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menegaskan bahwa lembah semut itu terdapat di negeri Syam.

Ahmad Yasin kecil biasa dipanggil dengan (kuniyah) Abu Sa’dah, dinisbatkan kepada ibundanya Sa’dah Abdullah al Hubail, untuk membedakan sebutan karena banyaknya nama Ahmad dalam keluarga Yasin. Sa’dah adalah sosok hajjah yang mulia, sabar, dan penuh keyakinan, termasuk wanita terhormat di desa tersebut. Ayah Ahmad Yasin bernama Ismail Yasin, orang terkemuka di desanya. Keluarganya termasuk keluarga yang berkecukupan. Ismail meninggal dunia ketika Ahmad masih sangat kecil, belum lewat usia 3 tahun, meninggalkan keluarga yang terdiri atas sebelas orang. Ahmad Yasin adalah anak ketiga di antara 4 anak laki-laki keluarga Ismail. Mereka tinggal bersama di desa Jurah sampai datang tahun “Prahara” 1948 ketika desa tersebut dihujani bom dari arah udara dan laut. Puluhan penduduk setempat dan penduduk desa tetangga yang mengungsi ke tempat tersebut meninggal dunia.

Ahmad yang saat itu berusia sebelas atau dua belas tahun pindah bersama keluarganya ke Jalur Gaza, tepatnya di kamp pengungsi al Shati’ dekat pantai kota Gaza. Selama kurang lebih seperempat abad Ahmad tumbuh dan belajar di kamp tersebut hingga menikah dan dikaruniahi putra dan putri. Pada masa yang penuh dengan rasa frustasi dan keputusasaan ini, cahaya dakwah gerakan Islam mulai tampak. Para dai mereka membangkitkan semangat perlawanan, keteguhan, dan harapan. Pengiriman delegasi mereka dari Mesir ke daerah Gaza tidak pernah berhenti. Dari Mesir berdatangan para guru, prajurit, cendekiawan, dan ulama seperti Syaikh Mahmud Ied dan Syaikh Muhammad Gazali. Sebelum mereka, Syaikh Hasan al-Banna sudah lebih dulu mendatangi kota Gaza. Kunjungannya merupakan awal mula keberkahan dan kebaikan bagi daerah tersebut dan penduduknya.

Ketika rumah di kamp pengungsi terasa sempit untuk menampung anggota keluarganya, juga karena banyaknya tamu dan pengunjung yang datang ke rumahnya, Syaikh Ahmad Yasin memboyong keluarganya ke lorong sebelah selatan kota Gaza, tepatnya di desa Jurah al Syams. Para relawan membangunkan rumah sederhana untuknya. Disinilah Syaikh menerima para tamu dan rekan-rekan seperjuangannya. Dia hidup dengan perabotan sederhana, jauh dari kemewahan dunia, mencukupkan diri dengan uang pension sebagai guru yang tidak seberapa besar.

Sebelum tahun “Prahara” 1948, Ahmad Yasin adalah murid kelas tiga sekolah dasar. Ketika mengungsi ke Gaza, Ahmad Yasin melanjutkan sekolah di madrasah ”Imam Syafi’i”, sekolah utama yang ada kala itu di Gaza. Sekolah ini membuka sekolah pagi (untuk siswa asli Gaza) dan sekolah sore (untuk siswa pengungsi). Ahmad Yasin menyelesaikan sekolah dasar di madrasah Imam Syafi’i tahun 1952. Kemudian melanjutkan sekolah menengah pertama di al Rimal, khusus untuk pengungsi, dan selesai tahun 1955. Adalah sebuah keajaiban yang menjadi kehendak Allah, bila Ahmad Yasin menjadi guru di sekolah tersebut di kemudian hari (mengingat cacat fifik yang dialaminya). Kemudian Ahmad Yasin melanjutkan di Sekolah Menegah Atas Palestina dan selesai pada tahun 1958. Karena sejumlah asalah akhirnya Ahmad Yasin tidak bisa melanjutkan studinya ke jenang yang lebih tinggi. Di antara sebab itu adalah: 1- Bahwa cita-cita sebagian besar keluarga Palestina di Jalur Gaza kala itu adalah menuntaskan anak-anaknya sekolah hingga tamat sekolah menengah atas untuk kemudian bekerja sebagai guru atau pegawai guna membantu ekonomi keluarga. 2- Bahwa pendidikan kala itu hampir-hampir hanya terbatas di kalangan keluarga yang berkecukupan ekonominya, di samping mereka yang dibiaya dan dikirim oleh Badan Bantuan PBB untuk Pengungsi Palestina UNRWA (United Nation Agency for Relief and Work of Palestinian Refugees) untuk melanjutkan studinya dengan pesyaratan. 3- Adalah masalah kondisi kesehatan yang buruk dan tidak wajar yang dialami Ahmad Yasin. Sedangkan Ahmad Yasin tidak termasuk yang disebutkan diatas. Dia bukan dari keluarga berduit dan tidak termasuk yang dikirim Agency. Untuk itu dia lebih memilih untuk bekerja.

Sampai di sini riwayat pendidikan Ahmad Yasin, meskipun dia sendiri pernah mencoba untuk melanjutkan studi di Universitas Kairo, Mesir, dan diterima. Namun dia tidak bisa melanjutkan studinya.

Namun demikian Ahmad Yasin membekali dirinya dengan pendidikan tinggi secara autodidak. Sungguh menakjubkan, Ahmad Yasin terbukti menguasai segala bidang keilmuan mulai dari agama, bahasa, sastra, politik, sosial sampai masalah ekonomi. Dengan wawasan yang luas inilah kemudian Ahmad Yasin menjadi sumber rujukan di Jalur Gaza dan semua orang, dari berbagai lapisan, terkesan oleh ceramah-ceramah yang disampaikan. Semua orang mendengar apa yang dikatakan dan menaruh hormat. Sejatinya, semua itu bukan hanya karena wawasan dan keilmuan yang dimilikinya saja. Sebenarnya banyak kaum intelek Palestina kala itu, namun – allahu a’lam – mungkin itu semua karena sikap wara’, ikhlas, tawadhu’, energik – meski fisiknya cacat –, kecerdasan, visi yang benar, kelapangan dada dan semangat memperjuangkan agama dan tanah air, serta totalitas kerjanya diperuntuhkan hanya pada Allah.


Kecelakaan Itu

Pada awal-awal tahun 50-an – khususnya di Jalur Gaza – para pemuda Palestina mulai terbuka matanya kepada gerakan islam. Itu karena keterbukaan Mesir pada masa itu dan kontak mereka dengan para dai melalui mahasiswa-mahasiswa yang pulang ke Gaza atau melalui kunjungan para dai, ulma dan tokoh pergerakan islam dari Mesir seperti yang kami sebutkan di atas. Gerakan Islam tidak hanya menyajikan materi keislaman semata. Namun dia ibarat pendidikan yang menyeluruh. Mulai dari keilmuan hingga olah raga. Tidak jarang kegiatan oleh raga dikaitan dengan kegiatan keilmuan dan pendidikan (tarbiyah). Ahmad Yasin termasuk salah satu dari anak kandung gerakan islam ini, tepatnya gerakan al Ikhwan al Muslimun dari Mesir, semenjak dia pindah ke Gaza.

Di dekat kamp pengungsi al Shati’, pantai adalah tempat bermain yang sangat penting dan strategis. Di sana banyak dilakukan aktivitas mulai dari keilmuan yang disusul dengan kegiatan olah raga. Di antara olah raga yang dilakukan adalah melompat dari ketinggian ke pasir laut (yang indah), atau seorang naik di atas pundak yang lain saling berpegangan tangan kemudian melompat ke laut, atau bermain bola dan berbagai permainan berat lainnya. Dalam salah satu permainan di pantai pada musim panas tahun 1952 Ahmad Yasin jatuh terjungkal kepalanya, seperti diceritakan Ahmad Yasin kepada keluarganya kala itu. Namun seperti diceritakan Dr. Abdul Aziz Rantisi, “Beliau mengalami musibah patah tulang leher saat bermain gulat dengan salah satu teman beliau, asy Syahid Abdullah Shiyam (Komandan Perang “Khalda” Beirut tahun 1982 yang gugur dalam perang tersebut). Namun beliau menyembunyikan sebab-sebab terjadinya kecelakaan tersebut kepada keluarga beliau agar tidak timbul masalah antara keluarga beliau dan keluarga Shiyam. Ketika itu, beliau hanya berkata bahwa kecelakaan itu terjadi karena ia melompat di udara dan kemudian terjatuh dengan kepala terlebih dahulu. Baru pada tahun 1990 beliau bercerita yang sebenarnya kepadaku saat bersama dalam satu pernjara.”

Penyair Palestina, Muhammad Abu Diyah, yang pernah menjadi sahabat Ahmad Yasin sejak kecil menuturkan, “Kami lantas membawanya ke kamp pengungsi. Kami menduga dengan beberapa pengobatan saja – diurut dengan air dan minyak sebagaimana cara pengobatan orang-orang desa pada umumnya – ia akan sembuh. Namun, ternyata musibah itu mengancam tulang lehernya dan berpengaruh pada tulang belakangnya kemudian berakibat pada kelumpuhan sebagian tubuhnya.” Ahmad Yasin akhirnya hanya bisa berjalan dengan berjinjit sambil menyeret pasir, kadang dia harus menancapkan kakinya ke dalam pasir untuk mendapatkan keseimbangan. Bila mengenai tanah yang keras dia langsung limbung dan jatuh. Sementara itu jari-jari tangannya kaku tidak bisa digerakan. Tidak bisa memegang apapun kecuali dengan sangat sulit. Ahmad Yasin, remaja yang masih belia dan penuh canda ini, setelah peristiwa tersebut berubah menjadi orang yang serius. Dia tetap berusaha datang shalat berjamaah di masjid dan bertekad melanjutkan sekolahnya hingga tamat tahun 1958.

Muhammad Abu Diyah menuturkan, Ahmad terus melanjutkan sekolah. Ia ke sekolah berjalan kaki dengan buku dikepit di ketiaknya. Ia berjalan kaki dengan berjinjit, sementara tangannya kaku dan jari-jarinya nyaris tidak bisa memegang pulpen kecuali dengan sangat sulit. Akan tetapi, ia tetap melanjutkan studinya hingga tamat dengan prestasi memuaskan. Setelah terjadi tarik ulur antara berbagai pihak yang bertanggung jawab dalam administrasi pemerintahan Mesir saat itu dan para tokoh pendidikan, akhirnya ia ditunjuk sebagai guru. Ia adalah sosok pendidik dan dai yang luar biasa. Pada saat itu aku melihat ia berjalan beberapa langkah kemudian terjatuh ke tanah. Lalu, ia mengambil buku-bukunya dan bangkit berdiri. Kemudian ia kembali berjalan dengan penuh semangat. Ini adalah sesuatu yang sulit untuk dilakukan oleh orang kuat sekalipun.”

Mengenai pekerjaan, hal itu tidak didapat Ahmad Yasin dengan mudah. Selepas tamat tahun 1958, sebagaimana kebanyakan anak muda Palestina kala itu, Ahmad Yasin mencari kerja. Pekerjaan yang paling diminati kebanyakan orang kala itu adalah mengajar, baik itu di sekolah pemerintah ataupun di sekolah milik UNRWA. Untuk bekerja di lembaga yang disebut terakhir ini sangat tidak mungkin bagi AHamas Yasin meski memiliki banyak keistimewaan dan fasilitas yang diberikan. Mudir (direktur) Sekolah UNRWA kala itu Khalil Uwaidha seorang sosialis dan juga wakilnya Farid Abu Wirda seorang sosialis, bahkan bisa dibilang para pejabat pendidikan UNRWA kala itu adalah orang-orang sosialis. Tidak ada tempat lain bagi Ahmad Yasin kecuali melamar di dinas pendidikan pemerintah.

Pada pagi hari buta saat pergi ke panitia pendaftaran untuk mengikuti interview, Ahmad Yasin bertemua dengan salah seorang rekannya. Dia berkata dengan lembut kepada Ahmad untuk memberikan pertimbangan. ”Apakah kamu berfikir bahwa panitia akan menerimamu?? Sedang kamu tahu bagiamana kredibilitasnya. Dan semua orang tahu apa yang harus dilakukan orang yang ingin masuk dan diterima. Ya akhi, saudaraku, sebaiknya batalkan saja perjalananmu dan kembalilah.”

Mendengar hal itu Ahmad Yasin hanya tersenyum samblk berdiri sempoyongan di atas jari-jari kakinya. ”Wahai saudaraku, apakah kamu mengira saya pergi ke panitia untuk mendapatkan belas kasihan? Tidak, demi Allah. Saya adalah seorang muslim yang percaya kepada kuasa Allah, jika memang Allah berkehendak saya diterima maka tak seorang manusiapun mampu mencegah rizki saya. Tidakkah kamu membaca firman Allah swt, ” Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezkimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. Maka demi Rabb langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan. (QS. 51:22-23) Tidakkah kau ingat sabda Rasulullah yang dieiwayatkan dari Ibnu Abbas, ”Ketahuilah, sekitanya umat manusia berhimpun untuk memberikan kemanfaatan kepadamu dengan sesuatu maka mereka tidak akan bisa memberikan kepadamu kecuali yang telah ditetapkan Allah untukmu. Dan ketahuilah, sekiranya umat manusia berhimpun untuk mencelakaimu dengan sesuatu maka mereka tidak akan bisa mencelakaimu kecuali apa yang telah ditetapkan Allah atasmu…” Demi Allah, saya percaya pada Allah dan Dia tidak akan mencelakanku. Saya bertawakal kepada Allah dan akan meneruskan perjalanan ini.” Ahmad Yasin akhirnya meneruskan perjalanan.

Setelah wawancara, panitia pendaftaran milihat banyak keistimewaan yang dimiliki Ahmad Yasin. Namun hanya satu hal, dia pincang!!! Sedang siapapun tahu, kala itu, barang siapa yang ingin lulus maka harus membanyar sejumlah uang untuk mempermudah prosesnya. Nama Ahmad Yasin akhirnya diloloskan ke pihak otoritas pendidikan umum untuk diambil keputusan. Di depan namanya tertulis, kemampuanya sangat bagus, nilainya sangat tinggi dan sangat baik, namun dia pincang!!! Cacat itupun menjadi pertimbangan serius pihak dinas otoritas pendidikan. Namun bila Allah sudah berkehendak, siapapun tak ada yang bisa menolaknya, ketika Kepala Otoritas Pendidikan kala itu, al Fariq Ahmad Salim, anak kesayangannya lahir cacat kakinya. Segera teken di depan nama Ahmad Yasin dengan tinta merah ”diterima”. Kemudian dia memerintahkan panitia untuk menerima semua calon guru yang diajukan oleh panitia.

Ahmad Yasin kemudian kembali ke almamaternya sebagai guru bahasa Arab dan pendidikan Agama dengan gaji 10 junaih Mesir setiap bulan. Ada kekhawatiran guru yang pincang ini akan mendapatkan perlakukan buruk dan pelecehan oleh sebagian siswanya. Namun yang terjadi adalah sebaliknya, sosok pincang ini justru mengundang banyak kekaguman dan pernghormatan tidak saja dari murid-muridnya namun juga dari rekan-rekan guru dan wali murid.


Sosok Umat yang Utuh

Dalam sebuah artikelnya, Dr. Abdul Aziz Rantisi, tokoh yang menggantikan Syaikh Yasin memimpin Hamas sepeninggal beliau yang kemudian menjadi target pembunuhan Israel berikutnya, melukiskan tentang pribadi pendiri dan tokoh spiritual Hamas ini dengan menyebut sebagai sosok yang setara dengan umat atau umat yang terdapat pada satu sosok dirinya. Rantisi menuliskan, Syaikh Ahmad Yasin adalah seorang tokoh pemimpin yang istimewa. Dialah sosok yang ketika mendapat bencana dan cobaan, justru memperbesar tekad dan keteguhannya dalam meneruskan jalan meskipun terjal. Beliau terus menapakkan kaki dengan berkorban, memberi, dan bahkan mewujudkan berbagai target yang pada gilirannya melahirkan gerakan perjuangan Islam.

Sebuah artikel sangat tidak cukup untuk melukiskan bahkan untuk menyelami kedalaman lautan sosok ini (Syaikh Yasin), apalagi sampai ke dasarnya. Lautan sosok ini sangat dalam, dalam sekali. Karena itu, sebuah artikel, sebuah buku, bahkan sepuluh jilid atau sebanyak apapun jumlahnya, ia tidak akan bisa memuat semua keutamaannya. Sejarah akan berhenti lama untuk mendokumentasikan pemimpin berkebangsaan Palestina yang pejuang ini. Namun demikian ada beberapa bagian dari kehidupan dan sifat beliau yang perlu diungkap pada saat sekarang agar dapat dicontoh dan ditanamkan pada diri dan jiwa generasi masa depan umat Islam. Pemimpin yang satu ini memiliki tekad yang tak pernah ragu, keinginan yang tak pernah kendur, keberanian yang tak pernah surut, serta kekuatan yang tak pernah lemah.

Syaikh Ahmad Yasin memasuki usia yang kelima belas tahun ketika beliau mengalami musibah patah tulang leher saat bermain gulat dengan salah satu teman beliau, asy-Syahid Abdullah Shiyam. Meskipun musibah yang menimpa pemuda ini sangat besar, namun beliau menyembunyikan sebab-sebab terjadinya kecelakaan tersebut kepada keluarga beliau agar tidak timbul masalah keluarga antara keluarga beliau dan keluarga Shiyam. Ketika itu, beliau hanya berkata bahwa kecelakaan itu terjadi karena ia melompat di udara dan kemudian terjatuh dengan kepala terlebih dahulu. Baru pada tahun 1990 beliau memberitahukan kepadaku sebab yang sebenarnya. Yaitu ketika aku bersama beliau di dalam penjara. Artinya, empat puluh tahun sesudah kecelakaan itu terjadi. Itulah pertama kali beliau mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi. Keluarga beliau sendiri sampai detik ini tidak pernah mengetahuinya. Kecelakaan yang mengenaskan tersebut telah menyebabkan pemuda Ahmad Yasin terserang kelumpuhan. Betis beliau tidak bisa bergerak. Demikian pula dengan lengan beliau. Tentu saja, orang yang terkena musibah semacam ini akan menjadi lemah dan hanya bisa pasrah. Ia hanya akan menjadi orang yang terpinggirkan dan tersia-siakan. Ia menjadi beban bagi masyarakat dan tanggungan yang berat bagi keluarganya.

Akan tetapi, yang menakjubkan dan menarik perhatian, Syaikh Ahmad Yasin telah menorehkan kemenangan pertama dalam hidupnya ketika ia mampu melahirkan gerakan dari kelumpuhannya, kehendak kuat dari kelemahannya, serta kekuatan dari ketidakberdayaannya. Jadi, tekad ruhiyah Syaikh Yasin mampu mengalahkan kelemahan fisiknya. Beliau melanjutkan sekolahnya hingga menjadi seorang guru. Kemudian beliau naik ke berbagai mimbar sebagai khatib, penceramah, pendidik, dan dai yang menyeru kepada Allah dengan hujjah yang jelas. Beliau juga menyiapkan pemuda muslim untuk mengemban tugas dakwah dan menghadapi berbagai konspirasi yang ditujukan kepada bangsa Palestina. Hal itulah yang membuatnya ditangkap oleh pemerintahan Mesir pada saat itu. Sesudah kekalahan pada tahun 1967 M, Syaikh Ahmad Yasin bangkit dengan kembali mendirikan gerakan Ikhwanul Muslimun di wilayah Gaza. Beliau berhasil mendirikan bangunan tersebut dengan kesabaran, keteguhan, dan ketekunan yang luar biasa. Jarang kita melihat sosok seperti beliau di dunia modern seperti ini. Apalagi, di saat bangsa Arab dan umat Islam sedang tidur nyenyak dan berada dalam kondisi lemah, terpecah, dan kalah. Sementara, Syaikh menyambung siang dan malamnya dengan terus bergerak demi untuk mencapai impian besar dalam menyelamatkan umat dari musibah yang menimpanya.

Setelah sukses membangun kembali Ikhwan di Palestina, Syaikh mulai menyiapkan sejumlah orang untuk mencapai kemenangan lain demi kebaikan bangsa Palestina. Bahkan, demi kebaikan bangsa Arab dan umat Islam. Yang menjadi tujuan pertama beliau adalah keluar dari kondisi yang lemah dan bangkit kembali. Beliau terdorong oleh keimanan yang sangat kuat bahwa umat mampu untuk mencapai kemenangan jika memiliki tekad untuk keluar dari kekalahan dan menghentikan sikap mengekor kepada musuh. Beliau mulai melakukan persiapan untuk menghadapi perang jangka panjang yang dilakukan oleh gerakan Islam dalam melawan permusuhan zionis terhadap Palestina, serta terhadap bangsa Arab dan umat Islam. Maka, Syaikh Ahmad Yasin mendirikan sebuah sayap militer gerakan Hamas. Namun, Allah menakdirkan sayap militer ini dihancurkan di saat awal kelahirannya, yang menyebabkan Syaikh Yasin ditangkap oleh musuh. Saat diinterogasi oleh pihak zionis beliau mendapatkan siksaan yang hebat. Hal itu terjadi pada tahun 1984 M, tiga tahun sebelum kemunculan gerakan intifadhah. Beliau dihukum penjara selama 13 tahun. Namun, berkat karunia Allah, setelah sebelas bulan mendekam di penjara, beliau dibebaskan lewat kesepakatan pertukaran tawanan pada tahun 1985 M, yang dilakukan oleh seorang pejuang, Ahmad Jibril, Sekjen Front Rakyat dengan pihak zionis. Beliau keluar dari penjara dengan tekad, keinginan, dan keteguhan untuk meneruskan perjuangan.

Di saat Syaikh Yasin memunculkan gerakan intifadhah Palestina pada tahun 1987 M, sebelumnya telah didirikan sayap militer gerakan Hamas yang selanjutnya diberi nama Brigade asy-Syahid Izzuddin al-Qassam, agar gerakan Hamas, sayap militernya, dan gerakan intifadhah rakyat Palestina menyerupai deklarasi perang total terhadap musuh yang biadab. Hal ini ditujukan untuk mewujudkan keseimbangan pertahanan dalam kondisi tidak adanya keseimbangan kekuatan.

Pada tahun 1987 M, beliau mendirikan gerakan perlawanan Islam (Hamas). Pada saat yang sama, dideklarasikan dimulainya gerakan intifadhah bangsa Palestina terhadap kezaliman, permusuhan, dan kesewenang-wenangan dalam bentuk pendudukan kaum zionis atas Palestina. Juga, terhadap tindakan mereka yang mengotori tempat-tempat suci, terutama Masjid al-Aqsa yang penuh berkah. Lalu, perlawanan terhadap pembantaian anak-anak, wanita, orang tua, bahkan janin yang masih berada di kandungan ibunya. Serta, perlawanan terhadap tindakan penghancuran desa-desa dan kota, pembongkaran rumah-rumah yang sedang ditempati oleh penghuninya, penebangan pohon-pohon berbuah, pembumihangusan tanah-tanah pertanian, dan penghancuran kehidupan rakyat. Syaikh Yasin memahami bahwa zionis perusak ini mempergunakan politik teror untuk mewujudkan tujuan-tujuan zionismenya yang agresor. Beliau juga mengetahui bahwa musuh dan penjahat ini tidak akan berhenti dengan politik tersebut, kecuali apabila harga yang harus dibayarkan untuk kejahatannya itu terlalu tinggi.

Syaikh Yasin ditangkap untuk kedua kalinya pada tahun 1989 M. Pihak zionis memvonisnya dengan penjara seumur hidup. Setelah delapan tahun berada di tahanan, berkat karunia Allah beliau dibebaskan akibat sebuah operasi yang gagal yang dilakukan oleh Mossad di Yordania. Yaitu operasi teror yang tujuannya ingin menghabisi nyawa sang MujAhed, Khalid Misy’al, pimpinan biro politik gerakan Hamas.

Syaikh Yasin keluar dari tahanan guna memproklamirkan kepada dunia bahwa jihad tidak akan berhenti sampai tanah Palestina merdeka secara total, bahwa satu jengkal tanahpun tidak akan dibiarkan kepada mereka, dan bahwa setiap hak rakyat Palestina akan terus dituntut, terutama hak untuk kembali bagi para pengungsi Palestina yang telah diusir dari rumah-rumah mereka sejak tahun 1948 M, disebabkan oleh teror zionis. Selain itu, beliau juga menolak segala kesepakatan dan perjanjian yang mengarah kepada penawaran untuk mendapat tanah air dan penyerahan sebagian darinya guna kepentingan zionis Yahudi yang didukung oleh kaum salibis yang dengki.

Kedengkian zionis terhadap Syaikh Yasin sampai ke tingkat menyuruh penguasa Palestina untuk menekan Syaikh Yasin. Maka, Penguasa Palestina menetapkan tahanan rumah kepada beliau dan segera merespon keinginan Israel. Akan tetapi, publik Palestina menolak hal tersebut agar beliau bisa keluar lagi meneruskan tekadnya yang kuat untuk melanjutkan perjalanan jihad.

Ketidaksenangan zionis berlanjut dan kemudian berwujud kepada usaha untuk menghabisi nyawa Syaikh dengan membom rumah yang beliau tinggali pada saat terjadinya serangan teror dengan bom seukuran seperempat ton. Akan tetapi, Allah menyelamatkan beliau. Syaikh Yasin keluar dengan selamat meskipun kerusakan yang menimpa rumah tersebut sangat parah. Ketika selamat dari upaya tersebut, ia kembali bersikeras melanjutkan perjalanan jihad. Berbagai kesulitan justru membuat beliau bertambah kuat, teguh, dan semangat mempertahankan hak-hak tanah air.


Selintas Perjalanan Syaikh Yasin

Syaikh Yasin berusia sepuluh tahun saat Inggris mengumpulkan bangsa zionis dari seluruh penjuru dunia untuk ditempatkan di tanah Palestina. Melalui kekuatan militer yang diperkuat dengan cerita bualan tentang tanah yang dijanjikan, didirikanlah untuk mereka negara yang bernama Israel pada tahun 1948.

Itulah awal tahun prahara (nakhbah) bagi bangsa Palestina. Syaikh Yasin bersama keluarganya dipaksa mengungsi ke wilayah Jalur Gaza. Untuk sementara waktu dia harus berhenti sekolah karena harus bekerja membantu kakaknya untuk mencukupi ekonomi keluarga. Tiga tahun kemudian Syaikh Yasin melanjutkan sekolah hingga terjadilah sebuah kecelakaan yang membuat seluruh tubuhnya lumpuh kecuali bagian kepalanya. Kondisi lumpuh tidak menghentikannya meneruskan studi hingga menjadi seorang pengajar bahasa Arab dan Tarbiyah Islamiyah baik di alamamaternya mmaupun di beberapa sekolah bantuan internasional (UNRWA) di Gaza.

Keterlibatannya dalam gerakan islam berbuntut pada penangkapan oleh pemerintahan Jamal Abdul Naseer karena dituduh sebagai bagian dari gerakan al Ikhwanul al Muslimun.

Ketika tokoh-tokoh gerakan Ikhwan yang berada di Gaza meninggalkan daerah tersebut untuk lari dari cengekeraman Nasser, Ahmad Yasin memiliki pandangan lain. Ia menegaskan bahwa di atas tanah itulah kehidupan dan jihad layak diwujudkan.

Ia memulai dari nol ketika kekuasaan kaum kiri dan nasionalis mencapai Tepi Barat dan wilayah Gaza sehingga ketaatan beragama lenyap dari masyarakat Palestina dalam bentuk yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Ketika ketaatan beragama dianggap sebagai bid’ah yang buruk dan simbol keterbelakangan, Syaikh Yasin tetap yakin bahwa era Islam pasti datang dan debu yang menutupi kesadaran umat akan segera hilang sehingga mereka kembali kepada akar dan rahasia kemuliaan mereka. Syaikh Yasin merancang bangunan tersebut: dari shalat ke shalat, dari masjid ke masjid lain. Syaikh menanamkan benihnya di tanah Isra dan Mi’raj seraya memberikan kabar gembira akan datangnya hari esok yang lebih baik.

Usahanya tidak hanya terbatas pada wilayah Gaza, tempat ia mendirikan Majma’ Islami, sebuah sebuah lembaga Islam yang lengkap, mencakup bidang sosial, kemasyarakatan, dan dakwah. Bahkan, beliau meluaskan upayanya hingga mencapai Tepi Barat yang menjadi tempat berkembangnya aliran kiri, nasionalis dan sekuler.

Di akhir 1970-an dan di awal 1980-an, pohon yang dibangun Syaikh Yasin sudah mulai membesar sedikit demi sedikit. Pihak-pihak lain di negara Palestina mulai menyadari bahayanya. Mereka menghadapi upaya Syaikh Yasin dengan menuduhnya sebagai agen penjajah sebab tidak memproklamirkan perlawanan bersenjata. Akan tetapi, Syaikh Yasin memahami tindakannya. Perlawanan tidak boleh tegak di atas pondasi yang lemah. Ia harus tegak di atas dasar-dasar yang kokoh dan kuat.

Pada tahun 1983, Syaikh Yasin merasa bahwa telah tiba saatnya untuk melakukan persiapan fisik dan materil sesudah melakukan persiapan spritual secara baik. Hal itu terlihat dengan berkembangnya sikap religius di masyarakat dan munculnya kekuatan gerakan Islam sebagai kekuatan kedua di berbagai universitas dan asosiasi. Bahkan di beberapa komunitas ia mulai mengungguli gerakan pembebasan.

Oleh pihak militer, Syaikh Yasin dianggap telah melakukan pengumpulan senjata, membentuk pasukan militer dan menyerukan pelenyapan eksistensi negara Yahudi. Karenanya, beliau ditangkap bersama koleganya kemudian dihadapkan ke mahkamah militer Israel dan divonis 13 tahun penjara, sementara hukuman yang lebih lama diberikan kepada sejumlah koleganya. Di antaranya kepada Syaikh asy Syahid Solah Syahadah. Hal itu berlangsung selama dua tahun. Pada tahun 1985, Syaikh Yasin keluar dari penjara berkat proses pertukaran tahanan dengan Front Rakyat yang dipimpin oleh Ahmad Jibril dengan pihak Israel, setelah beliau mendekam selama 11 bulan dalam penjara rezim Imperialis Israel

Fase itu adalah fase keputusasaan. Organisasi PLO mengalami kekalahan di Beirut. Kondisi negara-negara Arab juga sedang jatuh. Tawar-menawar dilakukan di sana-sini guna mengembalikan pengakuan internasional terhadap Palestina.

Syaikh kembali menghembuskan Gerakan Perlawanan Islam Palestina kalangan para pemuda lewat berbagai masjid yang telah menjadi simbol dalam melawan penjajah. Pihak terakhir ini merasa telah berhasil melenyapkan upaya perlawanan masyarakat Palestina, di luar dan di dalam.

Maka pada penghujung tahun 1987, tepatnya tanggal 14 Desember 1987, pada masa penuh berkah terkait dengan munculnya gerakan intifadhah pertama, Syaikh bersama tiga koleganya: asy Syahid Solah Syahadah, asy Syahid Ibrahim al Muqadimah, dan asy Syahid Abdul Aziz Rantisi, mengumumkan pendirian Gerakan Perlawanan Islam yang dikenal dengan nama “Hamas”. Pada akhir bulan Agustus 1988, militer Imperialis Israel menyerbu rumah kediaman beliau di Gaza. Mereka melakukan pengeledahan dan mengancam membuang beliau dengan kursi rodanya ke Lebanon.

Lewat perjalanan gerakan intifadhah yang pertama, Hamas menjadi penggerak utama sampai-sampai gerakan intifadhah disebut dengan revolusi masjid karena menjamurnya ceramah Islam yang disampaikan oleh Syaikh Yasin di berbagai acara dari masjid ke masjid.

Otoritas penjajah menyadari bahaya peran yang dimainkan oleh gerakan Hamas dalam intifadhah. Sementara Syaikh Yasin sendiri menyadari bahwa lemparan batu semata tidak cukup untuk memberikan rasa sakit ke tubuh penjajah.

Pada mulanya dan dengan melihat kepada minimnya potensi yang ada, gerakan tersebut dengan dipimpin oleh Syaikh Yasin dimulai dengan perang menggunakan pisau. Selanjutnya di awal tahun 1989 berkembang menjadi perlawanan bersenjata dan sampai kepada penculikan tentara Israel. Akibatnya, pada tanggal 15 Juni 1989 (referensi lain menyebutkan tanggal 17 Mei 1989) rezim penjajah menangkap Syaikh Ahmad Yasin bersama kurang lebih 260 pimpinan Hamas lainnya. Israel punya alasan, penangkapan dilakukan sebagai upaya menghentikan perlawanan bersenjata yang terjadi ketika itu yang mengambil bentuk serangan dengan menggunakan as silah al abyadh (senjata putih), yakni selain senjata api, terhadap serdadu-serdadu Israel, warga Yahudi serta penculikan terhadap agen-agen Israel.

Pada tanggal 16 Oktober 1991, mahkamah militer Imperialis Israel mengeluarkan keputusan (tanpa sidang pengadilan) dengan memvonis Syaikh Ahmad Yasin berupa penjara seumur hidup ditambah 15 tahun kurungan, setelah disodorkan daftar tuduhan sebanyak sembilan item. Di antaranya seruan (provokasi) penculikan dan pembunuhan terhadap serdadu-serdadu Imperialis Israel, pendirian Gerakan Hamas beserta sayap militer dan dinas keamanannya.

Penahanan Syaikh Yasin beserta sebagian besar pimpinan gerakan Hamas di wilayah Gaza dan Tepi Barat tidak menghentikan perjuangan. Justru hal itu membentuk simpati yang membuat Hamas menjadi lebih berkembang dan lebih besar. Dalam kurun waktu antara tahun 1989-1993 wilayah Gaza berubah menjadi neraka yang menakutkan bagi para agresor. Brigade al Qassam, sayap militer Gerakan Hamas juga menjadi alat yang menyulitkan penjajah, sesuatu yang mempercepat terselenggaranya kesepakatan Oslo. Tujuannya adalah untuk melepaskan diri dari tekanan perlawanan yang dilakukan oleh Hamas dalam menghadapi tentara penjajah.

Bertahun-tahun Syaikh Yasin menjadi tahanan penjara musuh. Namun, spirit dan pernyataannya yang keluar dari dari penjara menghiasi perjalanan gerakan tersebut yang semakin membesar di mata orang Palestina serta di mata dunia Arab dan Islam. Terutama setelah munculnya gerakan mati syahid yang ditetapkan oleh Gerakan Hamas dalam melawan penjajah yang dipimpin oleh asy Syahid Yahya Ayyas yang mati syahid setelah dibunuh pada tanggal 15 Januari 1996.

Bertahun-tahun Syaikh mendekam di penjara dengan menolak tawaran perkaranya diadili. Sementara itu gerakan Hamas terus berkembang dan para penjajah menyadari ancaman eksitensi yang belum pernah dikenal dalam sejarah mereka sebelumnya. Hal ini seperti yang diakui oleh Ya’kub Beiri dalam bukunya, Datang untuk membunuhmu… Bunuh Ia segera!, yang mencatatkan sejarah perlawanan gerakan Hamas di masa asy-Syahid Yahya Ayyas dan sesudahnya.

Rabu pagi, tanggal 1 Oktober 1997, Syaikh Ahmad Yasin dibebaskan berkat perjanjian yang berlangsung antara Jordania dan rezim Imperialis Israel, dengan kompensasi penyerahan dua agen (antek) Zionis yang tertangkap di Jordania setelah mereka gagal dalam upaya pembunuhan terhadap al-Akh Khalid Misy'al, Kepala Biro Politik Hamas di Amman pada tanggal 25 September 1997.

Setelah melanglang buana ke negara Arab, Syaikh kembali ke wilayah Gaza yang menyambutnya bak pahlawan. Sang Pemimpin itupun kembali mengawasi anak-anaknya.

Pada tanggal 28 September 2000 perjalanan gerakan intifadhah untuk al-Aqsa mulai muncul dengan Syaikh Yasin sebagai pemimpinnya. Ketika para pimpinan politik ditangkap dan dibunuh di Tepi Barat, wilayah Gaza relatif tidak terjangkau oleh penjajah. Hal itu karena ia memang sulit dijamah. Hanya saja, kekuatan dan kehadiran pimpinan di Gaza, terutama Syaikh Yasin, telah menyulut emosi penjajah. Mereka mulai melakukan gelombang pembunuan terhadap para pemimpin militer dan politik. Maka, dibunuhlah Syaikh Solah Syahadah, Ibrahim al Muqadamah, Ismail Abu Syanab serta puluhan pimpinan sayap militer lainnya termasuk pengganti Syaikh yasin, Dr. Abdul Aziz Rantisi yang dibunuh Israel pada 17 April 2004, kurang dari sebulan setelah pembunuhan Syaikh Yasin. Upaya pembunuhan juga dilakukan atas diri Dr. Mahmud Zehhar namun upaya itu gagal.

Pembunuhan terhadap diri Syaikh yasin memang sudak diperkirakan oleh semua pihak. Terlebih setelah aksi heroik di Asdod pada tanggal 15 Maret 2004 oleh dua pejuang Palestina dari Gaza, penjajah Zionis memutuskan oparasi pembunuhan dengan target para pimpinan gerakan politik guna melemahkan eksistensi gerakan perlawanan. Maka pada Senin 22 Maret 2004, selepas keluar dari masjid usai menunaikan shalat subuh, mobil yang ditumpangi Syaikh Yasin dibombardir tiga rudal yang ditembakan pesawat heli tempur Apache buatan Amerika. Syaikh Yasin gugur syahid bersama delapan orang lainnya. Di antara mereka adalah para pendampingnya. Itulah akhir kehidupan yang memang ia inginkan dan telah menjadi kehendak Allah.

Syaikh Yasin gugur syahid setelah menyempurnakan bangunan perlawanan dan merasa tenang karena bangunan tersebut sangat indah, kuat, dan kokoh. Juga, setelah ia menciptakan kemenangan yang diketahui oleh seluruh dunia lewat keputusan Sharon yang lari dari wilayah Gaza dengan dissengagement pan-nya.

Syaikh Yasin telah meninggal. Namun, perjalanan yang ia wujudkan dengan segala kesungguhan, perjuangan, dan ruhnya akan terus maju hingga menghabisi penjajah. Kita telah kehilangan seorang pahlawan yang menjadi legenda, seorang syaikh yang mulia, dan seorang pendidik utama. Ia menginginkan tanah air nenek moyangnya. Ia hendak mewujudkan haknya. Ia ingin agar seluruh rakyat hidup dengan damai di tanah air yang merdeka dan bahagia. Ia menuntut hak rakyat Palestina yang terkoyak oleh keputusan boneka PBB, oleh gerakan zionis serta oleh antek-anteknya, juga pengkhianatan sejumlah pimpinan tentara Arab di tahun 1948 dan sesudahnya.

Syaikh Ahmad Yasin memang telah meninggalkan dunia. Namun, ia tidak lenyap dari jiwa rakyat Palestina dan kaum muslimin. Ia adalah sosok yang melegenda. Ia hanya punya kursi roda, kepala, dan hati semata. Itulah fisik dan kondisi Ahmad Yasin. Namun, ia telah membuat takut Israel dan para sekutunya, membuat takut Israel dan agen-agen intelijennya, membuat takut beruang buas dan “penjagal” Sharon yang merubah haluan pesawat berikut rudalnya kemudian diarahkan menuju kursi roda yang sedang ditumpangi tubuh yang lumpuh itu. Selamat jalan Amir Mujahidin, Guru Perlawanan Palestina. Semoga Allah menempatkanmu di sisinya bersama para anbiya’, syuhada’dan shidiqin karena mereka itulah sebaik-baik teman. (warsito)

(Source : www.infopalestina.com )

Baca Selengkapnya......
 

blogger templates 3 columns | Make Money Online